October 16, 2018

Batalkan Pencaplokan TelkomVision oleh CT Corp

Di tengah kemelut isu BBM dan koalisi, pada pekan pertama Juni 2013 terjadi sebuah aksi korporasi yang bisa menjadi skandal politik dan ekonomi. Aksi korporasi ini melibatkan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dan CT Corp.

TLKM (untuk mudahnya disebut Telkom) adalah BUMN terbesar ketiga di Indonesia, yang menurut Forbes memiliki aset USD 11.5 milyar dengan nilai pasar USD 21.4 milyar. Telkom berada pada nomer 685 dalam ranking perusahaan terbesar versi Forbes. Sementara itu CT Corp dimiliki oleh Chairul Tanjung, konglomerat nasional yang juga Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN). Chairul dikenal sangat dekat dengan Presiden SBY, bahkan lebih dekat dibandingkan sebagian besar menteri.

 

Telkom dan CT Corp pada pekan pertama Juni 2013 menandatangani "Perjanjian Jual Beli Bersyarat" (Conditional Sales and Purchase Agreement - CSPA). Yang diperjual-belikan adalah saham Telkom pada anak usahanya, yaitu 98.75 persen saham PT Indonesia Telemedia (operator TV berbayar TelkomVision). Untuk mudahnya disebut "saham TelkomVision".

Dalam CSPA tersebut, CT Corp mengakuisisi 80 persen saham TelkomVision. Telkom tetap memiliki 20 persen. Nilai akuisisi ini diperkirakan di atas USD 100 juta. Setelah akuisisi, CT Corp nanti lebih banyak menyediakan konten, sementara infrastruktur menjadi tanggung jawab Telkom. Telkom menggunakan Morgan Stanley sebagai financial advisor.

Mengapa saya sebut "pencaplokan yang bisa menjadi skandal politik dan ekonomi"?

PERTAMA, tidak ada urgensinya bagi Telkom untuk melepas TelkomVision. Bahkan, langkah ini membuat Telkom kehilangan kesempatan bisnis yang menjadi andalan di masa depan.

Apa alasan strategis Telkom menjual saham TelkomVision? Tidak ada alasan sama sekali! Jika Telkom membutuhkan likuiditas, dia dapat meraih dana dari pasar dengan mudah. Apalagi hanya USD 100 juta lebih. Satu obligasi korporasi sudah cukup dan akan diburu investor.

Jika ingin memperbaiki governance TelkomVision, Telkom bisa mengganti direksi, meningkatkan kinerja komisaris, meningkatkan pengawasan atau masuk ke pasar modal.

Jika ingin mendapatkan dana pengembangan TelkomVision, banyak opsi lain yang bisa ditempuh. Saya yakin IPO TelkomVision akan sangat diserbu investor. Kenapa? Karena dari sudut pandang strategis, TelkomVision adalah salah satu masa depan Telkom. Bisnis seluler sekarang ini cenderung menurun ARPU-nya (average revenue per user). Penerimaan per user dari "suara" dan "pesan tertulis" cenderung turun, dan bisnis seluler makin tergantung pada layanan "data".

Banyak kalangan melihat televisi berbayar adalah salah satu andalan masa depan untuk mengkompensasi pelemahan ARPU dari bisnis seluler. Apalagi, kelas menengah Indonesia tumbuh dengan cepat. Oleh sebab itu Telkom seharusnya mengembangkan TelkomVision, bukan melegonya.

Di sisi lain, TelkomVision adalah satu-satunya perusahaan TV berbayar di Indonesia yang secara ekstensif menggunakan teknologi satelit dan kabel sekaligus. Dalam hal satelit, TelkomVision mempunyai keuntungan dibanding pesaingnya karena menggunakan satelit milik Telkom sendiri, yaitu Telkom 1 (C-band).

TelkomVision juga diuntungkan karena menggunakan infrastruktur kabel yang sebagian besar sudah tersedia. Pemain terbesar TV berbayar saja, yaitu Indovision (MNC group), baru mulai masuk ke kabel. First Media (Lippo Group) juga menggunakan kabel, namun belum seluas jaringan Telkom. Saat ini cakupan TV kabel analog TelkomVision meliputi Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya dan Bali. Sementara layanan kabel digital tersedia di Jakarta, Bandung dan Surabaya.

Selain itu, TelkomVision saat ini menguasai sekitar 14.5 persen pangsa pasar, kedua terbesar setelah para operator MNC, yaitu Indovision, Top TV dan Oke Vision. Ketiga TV berbayar MNC ini menguasai di atas 65 persen. Memang posisi TelkomVision belum ideal, namun tetap saja merupakan salah satu daya tarik bagi investor.

Ada lagi keunggulan TelkomVision yang tidak dimiliki pesaingnya. Yaitu, kekuatan brand Telkom yang sudah sangat dikenal, serta mempunyai reputasi kredibel di pasar.

Dengan kekuatan dan potensi di atas, jika TelkomVision melantai di bursa (bukan dicaplok CT Corp), jelas akan diserbu investor.

KEDUA, nilai tambah yang akan dibawa oleh CT Corp, khususnya dalam hal konten, sebenarnya bisa dikerjakan sendiri oleh TelkomVision. Konten yang laku dijual TV berbayar itu umumnya adalah program anak-anak, film dan serial, saluran TV spesial (seperti musik dan olahraga), saluran TV asing serta saluran lokal. Sementara untuk FTA (free-to-air) biasanya konten lokal, konten yang dilokalkan (localized contents), sepakbola dan film blockbuster.

Pelanggan TV berbayar adalah dari segmen menengah dan atas (segmen A dan B) yang berlangganan bukan untuk mencari konten lokal. Di sisi lain Chairul Tanjung memiliki TransCorp, yg saat ini lebih banyak terlibat dalam konten lokal yg lebih cocok untuk FTA.  Padahal TelkomVision sendiri sudah mampu menyediakan konten yang cocok dengan segmen TV berbayar.

Jika ingin konten unggulan, misalkan acara musik dunia, direksi TelkomVision tinggal ditugaskan berburu memenangkan hak siar-nya. Saya yakin mereka bisa.

KETIGA, saya menengarai saham TelkomVision dijual terlalu murah.

Ada beberapa alasan mendukung poin KETIGA ini, yaitu:

 

  1. TelkomVision memiliki sejarah dan pengalaman yang panjang. TelkomVision, lebih tepatnya PT Indonusa Telemedia, sudah berdiri sejak 7 Mei 1997. Krisis politik dan ekonomi Indonesia membuat perusahaan baru beroperasi pada Desember 1999. Nilai historis yang kaya ini memberi nilai korporasi tersendiri, baik dari sisi sumber daya manusia, jaringan maupun penguasaan lapangan.
  2. Sinergi dengan semua perusahaan di bawah Telkom bisa dimaksimalkan, khususnya dengan Telkomsel untuk distribusi konten.
  3. Kekuatan infrastruktur satelit dan kabel sebagaimana diuraikan sebelumnya.
  4. Basis pelanggan yg mencapai lebih dari 250 ribu.
  5. Kekuatan brand Telkom.

 

Sebagai perbandingan, pada waktu yang bersamaan Viva Media mengumumkan akan menginvestasikan USD 120 juta dalam 3 tahun untuk MULAI membangun layanan TV berbayar VivaSky. Dana sebesar USD 80 juta diperoleh dari pinjaman Deutsche Bank.

Perusahaan TV berbayar yg baru mulai dibangun saja, belum punya infrastruktur dan basis pelanggan, diperkirakan membutuhkan USD 120 juta. Bagaimana mungkin TelkomVision dengan semua infrastruktur, basis pelanggan dan bran-nya dinilai tidak jauh berbeda dari VivaSky?(Catatan, 80 persen dari 98.75 persen saham TelkomVision seharga USD 100 juta lebih. Jadi nilai 100 persen adalah USD 126.6 juta lebih).

Sumber-sumber internal memberikan estimasi bahwa nilai TelkomVision bisa mendekati USD 200 juta. Itu adalah nilai korporasi sekarang di mana masih banyak inefisiensi. Jika inefisiensi diberantas, nilainya tentu lebih besar lagi.

Catatan khusus: saya sendiri tidak melakukan valuasi karena bukan appraiser yang mempunyai akses terhadap seluruh aset dan kewajiban TelkomVision, yg notabene bukan perusahaan terbuka.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan ketiga poin di atas, sebaiknya pencaplokan TelkomVision oleh CT Corp ini dibatalkan. Telkom sebaiknya mengembangkan sendiri TelkomVision sesuai strategi bisnis awal.

Saya sudah melakukan konfirmasi ke beberapa pejabat negara terkait. Mereka umumnya menjawab tidak ikut-ikutan atau tidak tahu menahu. Mereka juga tidak yakin jika Presiden SBY tahu dan atau merestui pencaplokan ini. Perlu dicatat, TIDAK SEMUA pelaku usaha televisi, baik FTA maupun TV berbayar, diundang mengikuti tender.

Kedekatan CT dengan Presiden bisa menimbulkan gosip politik yang merugikan Presiden. Misalkan, pencaplokan ini digosipkan untuk menggalang dana kampanye. Karena, terdapat potensi capital gain yang sangat besar jika TelkomVision di-IPO-kan pada akhir 2013 atau awal 2014 setelah dicaplok.

Jika boleh menyarankan, karena CT adalah Ketua KEN, sebaiknya dia menahan diri tidak menyentuh BUMN sama sekali. Direksi BUMN tentu "keder" melihat kedekatannya dengan Presiden. Jika ingin masuk ke bisnis TV berbayar, kita dukung bersama. Tapi tirulah VivaSky dan pemain lama spt MNC, First Media dan Aora yang membangun sendiri, bukan mencaplok anak usaha BUMN yang sudah matang.

Kepada Dirut Telkom Arif Yahya, harap diingat bahwa pimpinan BUMN lah yang biasanya dijadikan tersangka pertama kali dalam kasus-kasus seperti ini. Apalagi proses tender TelkomVision tersebut sangat aneh, yang sementara ini tidak saya elaborasi.

Kepada Menneg BUMN, mengapa diam saja melihat bakal hilangnya aset BUMN? Tentu kita tidak ingin melihat lagi pengalaman BUMD Jawa Timur.

 

15 Juni 2013

Dradjad H. Wibowo

Ekonom

Sustainable Development - Indonesia (SDI)